• Home
  • Blog
  • Apa Itu Drone Otonom: Drone dengan Sistem Otomatis

Apa Itu Drone Otonom: Drone dengan Sistem Otomatis

Apa Itu Drone Otonom
sc: Vietnam

Doran Corporate – Drone kini tidak selalu harus dikendalikan secara manual sepanjang penerbangan. Dengan teknologi otomatis, drone otonom dapat menjalankan berbagai tugas berdasarkan sistem, sensor, dan data yang tersedia. Tingkat otonominya pun dapat berbeda, tergantung pada teknologi dan kemampuan yang digunakan. Lalu, apa itu drone otonom dan bagaimana cara kerjanya?

Apa Itu Drone Otonom?

Drone otonom dan drone otomatis sering dianggap sama, padahal keduanya memiliki cara kerja yang berbeda. Menurut European Union Aviation Safety Agency (EASA), drone otomatis terbang dengan mengikuti rute atau instruksi yang sudah ditentukan sebelum penerbangan dimulai. Jika menghadapi situasi yang tidak diprogram sebelumnya, remote pilot tetap perlu mengambil alih dan melakukan intervensi.

Sementara itu, drone otonom memiliki tingkat kemandirian yang lebih tinggi karena mampu merespons situasi tak terduga selama penerbangan. EASA menjelaskan bahwa drone otonom dapat melakukan penerbangan dengan aman tanpa intervensi pilot dengan memanfaatkan kemampuan sistem untuk menghadapi situasi darurat yang sebelumnya tidak dapat diprediksi. Karena itu, fitur seperti waypoint atau penerbangan yang mengikuti rute yang sudah dibuat sebelumnya belum tentu membuat sebuah drone termasuk sebagai drone otonom.

Baca juga: Mengenal Sistem Obstacle Avoidance pada Drone dan Cara Kerjanya

Sensor dan Navigasi Drone Otonom
sc: jouav

Sensor dan Navigasi Drone Otonom

Agar dapat terbang dan mengambil keputusan selama menjalankan misi, drone otonom membutuhkan informasi mengenai lingkungan di sekitarnya. Data tersebut diperoleh melalui berbagai sensor yang digunakan sesuai desain dan tujuan drone. Teknologi sensor pada sistem UAS dapat mencakup kamera elektro-optik dan inframerah, LiDAR, radar, pemindai radio frequency, hingga sensor akustik.

Berbagai sensor ini membantu drone mengetahui posisi, mengenali objek, mendeteksi potensi bahaya, serta memahami kondisi lingkungan yang perlu dipertimbangkan selama penerbangan. NASA bahkan mengembangkan radar berukuran kecil untuk UAS yang dapat menentukan jarak, kecepatan, dan lokasi beberapa bahaya secara real time sebagai bagian dari upaya pencegahan tabrakan.

Selain memahami lingkungan, drone juga harus mengetahui posisi dan menentukan arah penerbangannya. Dalam sistem UAS, informasi seperti lokasi dan arah dapat menjadi bagian dari data telemetri yang diterima oleh sistem pengendalian. NIST menjelaskan bahwa operator control unit dapat menerima berbagai data dari UAV, termasuk imagery, video, serta telemetri seperti lokasi dan heading.

Pada drone dengan tingkat otonomi yang lebih tinggi, informasi posisi dan data sensor dapat digunakan untuk mendukung pengambilan keputusan selama misi sehingga drone tidak hanya mengikuti perintah arah secara sederhana. Sistem juga dapat memanfaatkan data yang tersedia untuk menyesuaikan perilaku penerbangan berdasarkan tujuan dan kondisi yang dihadapi, meski kemampuan tersebut tetap bergantung pada teknologi dan desain masing-masing drone.

Cara Drone Otonom Mengambil Keputusan

Salah satu ciri utama drone otonom adalah kemampuannya merespons kondisi yang berubah berdasarkan data yang diterima. NIST membedakan automation dan autonomy karena sistem otomatis umumnya hanya menjalankan perintah yang sudah ditentukan tanpa dirancang untuk menghadapi situasi tak terduga. Sebaliknya, sistem otonom dapat menggunakan informasi dari sensor untuk menentukan tindakan selama misi.

Contohnya, UAV dapat secara otonom melacak objek bergerak menggunakan sensor onboard seperti kamera. Ketika target tertutup oleh objek lain, sistem dapat menentukan cara untuk menemukan dan melacaknya kembali sehingga keputusan tidak selalu bergantung pada daftar instruksi yang tetap.

Kemampuan otonom pada setiap drone juga bisa berbeda dan tidak hanya terbagi menjadi manual atau sepenuhnya otonom. NIST menjelaskan bahwa tingkat kemampuan dapat dimulai dari otomatisasi sederhana seperti mengikuti pola orbit atau grid. Pada tingkat yang lebih tinggi, drone dapat menjalankan tugas berdasarkan tujuan dari pengguna lalu menyesuaikan tindakannya berdasarkan informasi selama penerbangan.

Bahkan, mission autonomy memungkinkan sistem mengembangkan dan menyesuaikan rencana penerbangan multi-tahap menggunakan data secara real time. AI juga dapat mendukung kemampuan tersebut, termasuk membantu drone menghadapi situasi darurat yang tidak terduga tanpa intervensi pilot seperti yang dijelaskan EASA.

Meski begitu, penggunaan AI saja tidak otomatis membuat drone sepenuhnya otonom karena tingkat autonomy tetap bergantung pada kemampuan persepsi, navigasi, pengambilan keputusan, kontrol penerbangan, serta penanganan kondisi di luar skenario awal.

Baca juga: Apa Itu Drone Surveillance dan Bagaimana Cara Kerjanya?

detect dan avoid Drone Otonom
sc: halorobotics

Detect and Avoid pada Drone Otonom

Semakin mandiri sebuah drone, semakin penting kemampuannya mendeteksi dan menghindari bahaya selama penerbangan. Teknologi detect and avoid dikembangkan untuk mendukung kemampuan tersebut. NASA misalnya menguji ICAROUS yang menyediakan fungsi autonomous detect and avoid agar drone dapat menjaga jarak aman dari lalu lintas udara lain.

NASA juga mengembangkan teknologi collision avoidance dan sistem otonom lain, termasuk radar mini untuk small UAS yang mampu mendeteksi serta melacak bahaya secara real-time pada siang maupun malam hari dan dalam berbagai kondisi cuaca.

Meski begitu, kemampuan drone otonom tetap memiliki batasan dan tidak semuanya menawarkan tingkat performa yang sama. Agar dapat beroperasi dengan aman di ruang udara, UAS perlu mendeteksi dan menghindari kendaraan lain, mengikuti instruksi lalu lintas udara, menghindari medan, melakukan pendaratan, serta merespons berbagai kemungkinan selama operasi.

Karena itu, keandalan sensor, kemampuan perangkat lunak, komunikasi, keselamatan, dan regulasi menjadi bagian penting dalam pengembangan drone otonom. EASA juga menjelaskan bahwa operasi drone otonom membutuhkan tingkat verifikasi persyaratan teknis yang lebih tinggi dan tidak diperbolehkan dalam kategori Open berdasarkan kerangka regulasi Uni Eropa.

Penggunaan Drone Otonom di Berbagai Bidang

Kemampuan drone untuk menjalankan tugas dengan intervensi manusia yang lebih sedikit membuat penggunaannya semakin luas di berbagai sektor. NASA menyebutkan bahwa kendaraan udara otonom berpotensi digunakan untuk pekerjaan yang sulit atau berbahaya seperti pemadaman kebakaran, patroli perbatasan, pencarian dan penyelamatan, hingga pemantauan tanaman. Dengan kemampuan tersebut, drone dapat membantu menjalankan misi yang membutuhkan pemantauan dari udara secara lebih efisien.

Di bidang public safety, NIST juga membahas penggunaan UAS dengan tingkat autonomy yang lebih tinggi untuk menjalankan tugas berdasarkan tujuan yang diberikan operator. Salah satu contohnya adalah drone yang secara bertahap membuat peta lingkungan lalu menganalisis data yang telah dikumpulkan. Hasil analisis tersebut kemudian dapat digunakan oleh sistem untuk mengembangkan rencana penerbangan lanjutan sehingga drone bisa memperoleh informasi yang lebih detail.

Baca juga: Mengenal Apa Itu Teknologi Orthomosaic dan Penerapannya dalam Industri

Penutup

Drone otonom menawarkan cara baru dalam menjalankan berbagai tugas udara dengan bantuan sensor, sistem navigasi, hingga teknologi AI. Kemampuannya juga terus berkembang sehingga dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan pemantauan, keselamatan, hingga pekerjaan yang berisiko bagi manusia. Meski begitu, pemilihan drone tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan tingkat otonomi yang diperlukan.

Jika Anda sedang mencari drone untuk kebutuhan profesional maupun operasional, temukan berbagai pilihan drone di Doran Corporate. Untuk mendapatkan rekomendasi produk yang sesuai, hubungi CS Doran Corporate melalui WhatsApp dan konsultasikan kebutuhan Anda.

Artikel Terkait:

October 24, 2026

October 21, 2026

October 20, 2026

October 19, 2026

October 15, 2026

October 13, 2026