• Home
  • Blog
  • Mengenal Sistem Obstacle Avoidance pada Drone dan Cara Kerjanya

Mengenal Sistem Obstacle Avoidance pada Drone dan Cara Kerjanya

Sistem Obstacle Avoidance
sc: Vietnam

Doran Corporate Obstacle avoidance menjadi salah satu fitur penting pada drone modern untuk membantu mendeteksi dan menghindari berbagai hambatan selama penerbangan. Sistem ini bekerja dengan memanfaatkan sensor dan perangkat lunak untuk membaca kondisi di sekitar drone. Namun, bagaimana cara kerjanya dan seberapa efektif fitur Sistem Obstacle Avoidance dalam mencegah tabrakan? Selengkapnya di bawah ini.

Apa Itu Sistem Obstacle Avoidance?

Obstacle avoidance merupakan sistem pada drone yang berfungsi untuk mengenali objek atau hambatan di sekitar selama penerbangan. Hambatan yang terdeteksi bisa berupa objek statis seperti pohon, dinding, bangunan, dan tiang. Dalam kondisi tertentu, teknologi ini juga dapat mengenali objek yang bergerak. Namun, keberhasilannya tetap bergantung pada teknologi sensor serta kemampuan sistem yang digunakan.

Saat sebuah hambatan terdeteksi, sistem akan menentukan posisi objek tersebut terhadap arah penerbangan drone. Selanjutnya, drone dapat memberikan peringatan kepada pilot, mengurangi kecepatan, berhenti, atau mengubah jalur penerbangan sesuai desain dan mode penerbangannya. Jadi, obstacle avoidance tidak hanya bertugas mendeteksi objek, tetapi juga membantu mengambil tindakan untuk mengurangi risiko tabrakan.

Baca juga: Apa Itu Drone Surveillance dan Bagaimana Cara Kerjanya?

Cara Kerja Sistem Obstacle Avoidance

Agar dapat mengenali lingkungan sekitar, drone memanfaatkan berbagai jenis sensor. Salah satu yang umum digunakan adalah vision-based sensing yang memakai kamera untuk menangkap kondisi di sekitar drone. Data visual tersebut kemudian diproses untuk mengenali objek sekaligus memperkirakan posisi dan jaraknya. Selain kamera, sistem obstacle avoidance juga dapat menggunakan radar dan LiDAR.

Setiap sensor memiliki karakteristik dan keterbatasan masing-masing, sehingga beberapa drone menggabungkan lebih dari satu sensor melalui sensor fusion. Setelah objek terdeteksi, sistem perlu memperkirakan posisi hambatan, jaraknya, serta kemungkinan drone bergerak menuju objek tersebut.

Pada sistem berbasis visi, proses ini dapat melibatkan perhitungan informasi kedalaman atau pembentukan representasi lingkungan tertentu. Data tersebut kemudian digunakan untuk menentukan apakah drone masih memiliki jarak yang cukup untuk berhenti atau perlu mengubah arah. Pada drone yang lebih canggih, proses persepsi lingkungan dapat bekerja bersama dengan perencanaan jalur agar drone mampu memilih rute yang lebih aman.

Respons yang diberikan drone setelah mendeteksi hambatan juga dapat berbeda sesuai produk dan sistem yang digunakan. Drone bisa memberikan peringatan kepada pilot, membatasi pergerakan, mengurangi kecepatan, melakukan pengereman, hingga berhenti sebelum terlalu dekat dengan objek.

Sistem tertentu juga dapat menyesuaikan jalur penerbangan dengan menggabungkan data sensor, kontrol penerbangan, dan perencanaan jalur. Kemampuan ini turut dipengaruhi oleh cakupan sensor karena sensor yang hanya mengarah ke depan tidak memberikan perlindungan yang sama dengan sensor yang mencakup beberapa arah.

FAA menjelaskan bahwa sensor seperti LiDAR, radar, dan sensor berbasis visi memiliki bidang pandang tertentu sehingga kemampuan deteksinya terbatas pada area yang tercakup. Beberapa drone bahkan menawarkan omnidirectional obstacle sensing untuk mendeteksi hambatan dari berbagai arah.

Meski begitu, istilah omnidirectional bukan berarti semua objek pasti dapat terdeteksi dalam setiap kondisi. Kemampuan sebenarnya tetap bergantung pada spesifikasi sistem, arah sensor, dan kondisi pengoperasian dari produsennya. DJI juga mencantumkan cakupan obstacle sensing yang berbeda pada sejumlah model dronenya.

Baca juga: Drone Tank Inspection: Solusi Inspeksi Tangki yang Lebih Aman, Cepat, dan Efisien

Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Obstacle Avoidance

Kinerja obstacle avoidance tidak selalu sama dalam setiap kondisi penerbangan. FAA menyebutkan bahwa pencahayaan, kabut, hujan, jarak pandang yang berkurang, serta gangguan atau pelemahan sinyal dapat menjadi faktor yang membatasi kemampuan sistem dalam mendeteksi dan menghindari hambatan.

Pada sistem yang mengandalkan kamera, kemampuan deteksi juga sangat bergantung pada informasi visual yang berhasil ditangkap sensor. Objek tertentu seperti benda kecil, sempit, tidak memiliki tekstur yang jelas, atau bergerak dapat lebih sulit dikenali. Karena itu, obstacle avoidance tetap memiliki batas kemampuan dan tidak dapat menggantikan pengawasan pilot sepenuhnya.

Anggapan bahwa drone dengan obstacle avoidance bisa terbang tanpa risiko tabrakan juga kurang tepat. Sistem ini memiliki batas jarak deteksi, sudut pandang, kecepatan operasi, serta kondisi penggunaan tertentu. Sebagai contoh, spesifikasi drone pertanian DJI mencantumkan jarak deteksi dan batas kecepatan tertentu agar fitur penghindaran hambatan dapat bekerja sesuai spesifikasinya.

Dengan begitu, obstacle avoidance sebaiknya dipahami sebagai lapisan bantuan keselamatan, bukan jaminan drone akan selalu terhindar dari tabrakan. Pilot tetap perlu memperhatikan lingkungan penerbangan, arah pergerakan drone, kondisi cuaca, dan batas kemampuan sistem. FAA juga menegaskan bahwa tanggung jawab untuk melihat serta menghindari pesawat lain tetap menjadi bagian penting dalam pengoperasian drone.

Perbedaan Obstacle Avoidance dan Detect and Avoid

Meski terdengar mirip, obstacle avoidance dan Detect and Avoid (DAA) memiliki fungsi serta standar yang berbeda. Transport Canada menjelaskan bahwa obstacle avoidance pada banyak RPAS komersial umumnya dirancang sebagai sistem jarak dekat untuk mendeteksi hambatan dan membantu pilot. Karena itu, fitur tersebut tidak otomatis dianggap sebagai sistem DAA yang memenuhi persyaratan tertentu untuk operasi BVLOS (Beyond Visual Line of Sight).

Dalam penerbangan drone yang lebih kompleks, DAA memiliki cakupan yang lebih luas karena dapat membantu mendeteksi pesawat lain dan mendukung pengambilan keputusan untuk menghindarinya. Teknologi yang digunakan pun dapat berbeda sesuai sistem dan kebutuhan operasi.

Laporan GAO pada 2026 menyebutkan bahwa kemampuan DAA dapat didukung oleh data posisi, ADS-B, sensor kamera atau akustik, radar, hingga radar darat. Dengan demikian, obstacle avoidance lebih berfokus pada hambatan di sekitar drone, sedangkan DAA dirancang untuk mendukung kemampuan mendeteksi dan menghindari risiko konflik dengan pesawat lain.

Baca juga: Cara Drone Mendeteksi Kebocoran Gas Metana: Teknologi Inspeksi yang Lebih Aman

Penutup

Pada akhirnya, obstacle avoidance menjadi fitur penting untuk membantu meningkatkan keamanan saat drone beroperasi. Namun, kemampuan sistem tetap dipengaruhi oleh sensor, kondisi lingkungan, cakupan deteksi, serta batas operasional drone. Karena itu, pilot tetap perlu memahami cara kerja dan keterbatasannya agar penerbangan dapat dilakukan dengan lebih aman.

Jika Anda sedang mencari drone dengan sistem obstacle avoidance untuk kebutuhan profesional, Anda bisa mendapatkannya melalui Doran Corporate. Hubungi CS melalui WhatsApp untuk mendapatkan informasi mengenai pilihan drone, spesifikasi, dan produk yang sesuai dengan kebutuhan Anda.

Artikel Terkait:

August 28, 2026

August 21, 2026

August 19, 2026

August 18, 2026

August 14, 2026

August 6, 2026