Doran Corporate – Kebakaran hutan dan lahan membutuhkan pemantauan yang cepat untuk menemukan titik panas serta mencegah api meluas ke area lain. Drone thermal dapat membantu proses pemantauan dari udara dengan mendeteksi sumber panas yang sulit terlihat secara langsung. Lantas, apa saja drone thermal untuk pantau kebakaran hutan? Simak rekomendasi lengkapnya di bawah ini.
Fungsi Drone Thermal untuk Memantau Karhutla?
Kamera thermal bekerja dengan menangkap radiasi inframerah yang berkaitan dengan temperatur objek. Hasilnya ditampilkan dalam bentuk citra thermal sehingga area dengan temperatur berbeda dapat terlihat lebih mudah dibandingkan hanya menggunakan kamera visual.
Dalam pemantauan kebakaran, kemampuan tersebut dapat membantu operator mencari area yang memiliki temperatur lebih tinggi. Drone kemudian dapat digunakan untuk melakukan pengamatan dari udara tanpa mengharuskan personel masuk langsung ke area yang berpotensi berbahaya.
Namun, citra thermal bukan berarti setiap area panas otomatis merupakan api. Permukaan tanah, batu, material terbakar, kendaraan, atau objek lain juga dapat memiliki temperatur tinggi. Karena itu, hasil thermal perlu diinterpretasikan bersama citra visual dan kondisi lapangan.
DJI sendiri mencantumkan penggunaan drone thermal untuk wildfire risk identification dan thermal reconnaissance. Pada solusi wildfire-nya, DJI menempatkan Matrice 4T sebagai drone yang dapat dibawa ke lokasi respons dan digunakan untuk evaluasi risiko awal menggunakan kamera visual dan thermal.
Baca juga: Drone untuk Inspeksi Tangki BBM: Solusi Modern yang Lebih Aman, Cepat, dan Efisien
Rekomendasi Drone untuk Kebakaran Hutan
Setelah memahami fungsi kamera thermal dalam membantu pemantauan karhutla, pemilihan drone yang sesuai juga perlu diperhatikan berdasarkan kebutuhan di lapangan. Kemampuan kamera, jarak jangkauan, durasi terbang, hingga ketahanan perangkat dapat menjadi pertimbangan sebelum digunakan untuk pemantauan. Berikut beberapa rekomendasi drone thermal yang dapat dipertimbangkan untuk kebutuhan kebakaran hutan.
1. DJI Matrice 4T

Drone ini merupakan bagian dari Matrice 4 Series yang menggabungkan kamera wide-angle, medium tele, telephoto, thermal, serta laser rangefinder dalam satu platform. DJI secara khusus mencantumkan Matrice 4T dalam solusi wildfire untuk pengenalan risiko kebakaran dan thermal reconnaissance.
Kamera thermal yang digunakan memiliki resolusi 640 × 512 dengan pixel pitch 12 μm serta frame rate 30 Hz. Sistem tersebut menawarkan DFOV 45 derajat dan focal length ekuivalen 53 mm dengan NETD ≤50 mK pada F1.0. Selain itu, tersedia spot meter dan area measurement untuk membantu pengamatan maupun pengukuran suhu pada area tertentu.
Dari sisi pengukuran temperatur, thermal Matrice 4T mendukung high gain pada rentang -20°C hingga 150°C serta low gain dari 0°C hingga 550°C. Akurasi pengukurannya mencapai ±2°C atau ±2% pada high gain dan ±5°C atau ±3% pada low gain dengan nilai yang lebih besar digunakan sesuai ketentuan spesifikasi. Bobot drone sekitar 1.219 gram termasuk propeller dan waktu terbang maksimal mencapai 49 menit dalam kondisi tanpa angin.
DJI juga menyebut perangkat ini dapat dipersiapkan untuk terbang sekitar 30 detik dalam skenario respons kebakaran. Tidak hanya mengandalkan kamera thermal, tersedia pula kamera wide-angle 48 MP, medium tele 48 MP, dan telephoto 48 MP sehingga satu platform dapat digunakan untuk mengamati area secara luas sekaligus memeriksa objek dari jarak lebih jauh.
2. DJI Mavic 3T Advanced

DJI Mavic 3T Advanced dilengkapi kamera thermal beresolusi 640 × 512 piksel dengan pixel pitch 8 μm. Kamera ini memiliki DFOV 41,2 derajat serta focal length ekuivalen 60 mm. Pengukuran temperatur didukung melalui spot meter dan area measurement dengan rentang -20°C hingga 150°C pada high gain serta 0°C hingga 500°C pada low gain. Kemampuan tersebut dapat membantu operator menemukan area dengan anomali temperatur saat melakukan pemantauan kebakaran hutan dari udara.
Selain kamera thermal, Mavic 3T Advanced juga membawa kamera wide-angle 48 MP dan kamera tele 12 MP dengan focal length ekuivalen 162 mm serta zoom hybrid hingga 56×. Kamera thermal dan kamera zoom juga mendukung split-screen zoom hingga 28× untuk membandingkan objek dari dua tampilan.
Waktu terbang maksimal mencapai 45 menit dalam kondisi tanpa angin. DJI juga menyediakan fitur seperti high temperature alerts, color palettes, isotherms, serta DJI Thermal Analysis Tool untuk membantu analisis citra thermal dan menemukan anomali temperatur.
3. DJI Matrice 4TD

DJI Matrice 4TD merupakan drone thermal yang dirancang khusus untuk DJI Dock 3 dan mendukung operasi remote maupun penggunaan standalone dengan DJI RC Plus 2 Enterprise. Drone ini membawa kamera wide-angle 48MP, medium tele 48MP, telephoto 48MP, kamera thermal infrared, NIR auxiliary light, serta laser rangefinder.
Kamera thermalnya menggunakan uncooled VOx microbolometer dengan resolusi 640 × 512 piksel, pixel pitch 12 μm, frame rate 30 Hz, DFOV 45 derajat, focal length ekuivalen 53 mm, aperture f/1.0, dan fokus 5 meter hingga infinity. Kamera ini juga mendukung pengukuran temperatur melalui spot meter dan area measurement.
Rentang pengukurannya mencapai -20°C hingga 150°C pada high gain serta 0°C hingga 500°C pada low gain. Selain itu, tersedia UHR Infrared Image dengan resolusi hingga 1280 × 1024 untuk menghasilkan citra thermal yang lebih detail. Untuk kebutuhan karhutla, kemampuan tersebut dapat dimanfaatkan untuk memantau anomali temperatur dari udara sekaligus melihat kondisi area melalui kamera visual dan telephoto.
NIR auxiliary light dengan jangkauan hingga 100 meter juga mendukung pengamatan dalam kondisi minim cahaya. Dari sisi operasional, Matrice 4TD memiliki bobot sekitar 1.850 gram, waktu terbang maksimal 54 menit, perlindungan IP55, serta ketahanan angin hingga 12 m/s.
Jika dipasangkan dengan DJI Dock 3, drone dapat menjalankan operasi remote dan misi terjadwal sehingga cocok untuk pengawasan berulang pada kawasan yang lokasinya relatif tetap. Jadi, Matrice 4TD lebih relevan untuk pemantauan karhutla yang membutuhkan operasi berkala dan remote, sedangkan kebutuhan respons cepat di lokasi berpindah lebih sesuai menggunakan drone thermal portabel.
4. DJI Matrice 30T

DJI Matrice 30T merupakan drone enterprise yang menggabungkan kamera wide-angle, kamera zoom, laser rangefinder, serta kamera thermal dalam satu platform. Kamera thermalnya menggunakan uncooled VOx microbolometer dengan resolusi normal 640 × 512 piksel dan mendukung mode Infrared Image Super-resolution hingga 1280 × 1024 piksel. Sensor tersebut memiliki pixel pitch 12 μm, DFOV 61 derajat, focal length ekuivalen 40 mm, aperture f/1.0, serta NETD ≤50 mK pada F1.0.
Pengukuran temperatur dapat dilakukan melalui spot meter dan area measurement dengan akurasi ±2°C atau ±2% menggunakan nilai yang lebih besar. Rentang pengukurannya mencapai -20°C hingga 150°C pada high gain serta 0°C hingga 500°C pada low gain. Selain itu, tersedia temperature alert untuk membantu memberikan perhatian pada area dengan temperatur tertentu.
Untuk pemantauan karhutla, M30T termasuk relevan karena DJI memang menempatkannya dalam solusi wildfire. Operator dapat mencari hotspot secara manual menggunakan kamera thermal kemudian beralih ke kamera visual dan zoom untuk memahami kondisi objek atau lingkungan di sekitarnya.
Fitur Link Zoom dapat menampilkan tampilan thermal dan visual secara bersamaan, sementara laser rangefinder dan PinPoint membantu mendapatkan koordinat hotspot yang kemudian dapat dibagikan kepada tim di lapangan melalui DJI Pilot 2 atau FlightHub 2.
Dari sisi operasional, M30T memiliki perlindungan IP55, waktu terbang maksimal 41 menit, ketahanan angin hingga 12 m/s, serta bobot sekitar 3.770 gram termasuk dua baterai. Baterai hot-swappable juga memungkinkan penggantian baterai untuk mendukung operasi berkelanjutan. Dibandingkan Mavic 3T yang lebih ringan, M30T menawarkan platform enterprise yang lebih tangguh untuk operasi pemantauan dan respons di lingkungan yang menantang.
5. Autel EVO II Dual 640T RTK Rugged Bundle V3

Autel EVO II Dual 640T RTK V3 merupakan drone thermal yang menggabungkan kamera visual 48MP dengan kamera thermal beresolusi 640 × 512 piksel. Sensor thermalnya menggunakan uncooled VOx microbolometer dengan pixel size 12 μm, focal length 13 mm, sudut pandang H33° × V26°, rentang spektrum 8–14 μm, serta zoom hingga 16×. Kamera ini mampu merekam video thermal 640 × 512 hingga 30 fps dan mendukung Picture-in-Picture.
Pengukuran temperatur tersedia pada rentang -20°C hingga 150°C dalam high gain dan 0°C hingga 550°C pada low gain dengan akurasi ±3°C atau ±3% dari pembacaan, menggunakan nilai yang lebih besar. Jarak pengukuran temperatur yang akurat berada pada 2–20 meter. Fitur temperature alarm dan isotherm juga membantu operator memantau area dengan temperatur tertentu dan menyoroti objek yang berada dalam rentang suhu yang ditentukan.
Untuk pemantauan karhutla, kombinasi kamera thermal dan visual dapat membantu operator menemukan anomali temperatur lalu memahami kondisi area di sekitarnya melalui citra visual. Sistem RTK memberikan positioning dengan akurasi hingga ±0,1 meter secara horizontal dan vertikal ketika RTK bekerja normal sehingga informasi posisi hasil pemantauan dapat dicatat dengan lebih presisi.
Drone ini memiliki bobot sekitar 1.250 gram, waktu terbang maksimal 36 menit, ketahanan angin hingga Level 8, serta sistem obstacle avoidance omnidirectional yang menggunakan 19 kelompok sensor. Autel juga menyediakan dukungan A-RTK base station dan RTK network untuk pengambilan data yang lebih presisi.
Baca juga: Drone untuk Inspeksi Bendungan: Begini Cara Kerja dan Rekomendasinya
Cara Memilih Drone Thermal untuk Pantau Karhutla

Pemilihan drone untuk karhutla tidak cukup hanya melihat resolusi kamera thermal. Kondisi lapangan dapat sangat beragam sehingga drone yang sesuai untuk patroli cepat belum tentu ideal untuk pemantauan area yang membutuhkan operasi berulang atau pengumpulan data yang lebih terstruktur.
1. Perhatikan Resolusi Thermal
Resolusi 640 × 512 sudah digunakan pada sejumlah drone thermal enterprise dalam daftar ini. Resolusi tersebut menunjukkan jumlah piksel pada sensor thermal, tetapi bukan berarti semua drone dengan resolusi sama akan menghasilkan citra yang identik. Lensa, pixel pitch, NETD, jarak terhadap objek, kondisi atmosfer, dan kualitas pemrosesan gambar juga memengaruhi hasil thermal. Karena itu, jangan memilih drone hanya berdasarkan angka resolusi.
2. Perhatikan Kemampuan Mengukur Temperatur
Jika drone digunakan untuk mencari hotspot, kemampuan pengukuran temperatur dapat menjadi fitur penting. Beberapa platform dalam daftar ini mendukung spot measurement, area measurement, temperature alert, dan isotherm. Namun, angka temperatur yang ditampilkan kamera bukan berarti selalu sama dengan temperatur sebenarnya pada objek. Emisivitas material, jarak, kondisi atmosfer, sudut pengamatan, serta karakter permukaan dapat memengaruhi hasil pengukuran.
3. Perhatikan Kamera Visual dan Zoom
Thermal membantu menemukan perbedaan panas, sedangkan kamera visual membantu operator memahami objek yang sedang diamati. Kombinasi keduanya sangat berguna ketika operator perlu memastikan konteks dari area panas yang ditemukan. Kamera tele juga berguna ketika operator perlu melakukan pemeriksaan dari jarak lebih jauh. Mavic 3T, misalnya, memiliki kamera tele 12 MP dengan kemampuan hingga 56× hybrid zoom pada seri Mavic 3 Enterprise.
4. Perhatikan Durasi Terbang
Pemantauan area luas membutuhkan perencanaan baterai yang baik. Mavic 3T dan Mavic 3T Advanced memiliki waktu terbang maksimum 45 menit dalam kondisi tanpa angin, sedangkan Matrice 4T mencapai hingga 49 menit dalam kondisi yang sama. Angka tersebut merupakan kondisi spesifikasi, bukan berarti drone akan selalu terbang selama itu ketika digunakan di lapangan. Angin, temperatur, kecepatan terbang, manuver, dan kondisi baterai dapat memengaruhi durasi aktual.
5. Pertimbangkan Mobilitas Tim
Tim pemantauan karhutla sering kali perlu berpindah lokasi. Drone yang lebih ringan dapat memberikan keuntungan ketika perangkat harus dibawa menggunakan kendaraan atau dipasang dengan cepat di titik pengamatan. DJI sendiri menempatkan Matrice 4T sebagai platform yang portabel untuk misi respons cepat dan menyebut bobotnya sekitar 1,2 kg. Sebaliknya, sistem seperti Matrice 4TD dan Dock 3 lebih cocok dipikirkan sebagai sistem pemantauan yang ditempatkan pada lokasi tertentu.
6. Perhatikan Ketahanan terhadap Lingkungan
Karhutla dapat menghasilkan kondisi panas, asap, debu, dan angin yang berubah. Operator harus memperhatikan batas operasi resmi drone sebelum menerbangkannya di area kebakaran. Panas ekstrem juga perlu diperhatikan pada kamera thermal. DJI bahkan memberikan peringatan agar lensa infrared tidak diarahkan langsung ke sumber energi kuat seperti matahari, lava, atau laser karena dapat merusak sensor.
Baca juga: Drone untuk Search and Rescue serta Disaster Prevention & Response
Penutup
Drone thermal dapat membantu proses pemantauan karhutla dengan memberikan gambaran kondisi area dari udara, terutama untuk menemukan anomali temperatur yang sulit terlihat melalui kamera visual. Namun, setiap drone memiliki karakteristik berbeda dari sisi kamera thermal, kemampuan pengukuran temperatur, durasi terbang, mobilitas, hingga ketahanan terhadap kondisi lingkungan. Karena itu, pemilihannya perlu disesuaikan dengan kebutuhan operasi dan kondisi lokasi yang akan dipantau.
Jika Anda sedang mencari drone thermal untuk kebutuhan pemantauan kebakaran hutan, inspeksi, maupun kebutuhan operasional lainnya, Anda dapat menemukan berbagai pilihan drone enterprise di Doran Corporate. Hubungi Customer Service Doran Corporate melalui WhatsApp untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai produk, spesifikasi, dan pilihan drone thermal yang sesuai dengan kebutuhan Anda.

