Peran Drone dalam Disaster Prevention, Response, dan Search and Rescue
Drone memiliki peran penting dalam setiap tahapan penanggulangan bencana, mulai dari pencegahan hingga proses pemulihan. Pada tahap disaster prevention, drone digunakan untuk memantau daerah yang rawan banjir, tanah longsor, maupun kebakaran hutan secara berkala. Hasil pemetaan udara membantu instansi terkait mendeteksi perubahan topografi, penumpukan material yang berpotensi membahayakan, serta munculnya titik panas sebelum berkembang menjadi bencana yang lebih besar.
Ketika bencana terjadi, drone juga berfungsi untuk melakukan rapid assessment sehingga tim di lapangan dapat memperoleh gambaran kondisi area terdampak hanya dalam hitungan menit. Informasi mengenai akses jalan, titik api yang masih aktif, hingga tingkat kerusakan dapat dikumpulkan lebih cepat sehingga proses pengambilan keputusan menjadi lebih efektif.
Selain mendukung pencegahan dan respons bencana, drone juga menjadi perangkat yang sangat membantu dalam operasi Search and Rescue (SAR). Kamera beresolusi tinggi, kamera termal, serta kemampuan terbang di area yang sulit dijangkau memungkinkan drone membantu menemukan korban di hutan, pegunungan, wilayah banjir, maupun lokasi bangunan yang runtuh.
Setelah fase darurat selesai, drone tetap dimanfaatkan untuk mendokumentasikan tingkat kerusakan, melakukan evaluasi risiko lanjutan, serta mengumpulkan data yang dibutuhkan dalam proses perencanaan rehabilitasi dan rekonstruksi. Dengan kemampuan tersebut, drone mampu mempercepat proses pencarian, meningkatkan keselamatan personel, sekaligus menyediakan data yang akurat untuk mendukung penanganan bencana secara menyeluruh.
Baca juga: Drone untuk Warehouse: Pengertian, Cara Kerja, Manfaat, hingga Teknologi di Baliknya
Rekomendasi Drone untuk Search and Rescue
Memilih drone untuk kebutuhan Search and Rescue (SAR) tidak bisa dilakukan sembarangan. Drone yang digunakan harus memiliki kemampuan terbang stabil, jangkauan luas, kamera berkualitas tinggi, hingga fitur pendukung seperti thermal imaging untuk membantu proses pencarian di berbagai kondisi. Berikut beberapa rekomendasi drone untuk Search and Rescue yang layak dipertimbangkan.
1. DJI Matrice 4T – Portable Thermal

DJI Matrice 4T merupakan drone portabel yang dirancang untuk mendukung operasi Search and Rescue (SAR) sekaligus respons cepat saat terjadi bencana. Bobotnya sekitar 1.219 gram sehingga mudah dibawa menggunakan kendaraan operasional dan dapat diterbangkan hanya dalam waktu sekitar 30 detik setelah persiapan.
Drone ini mampu terbang hingga 49 menit dalam kondisi tanpa angin, mendukung lepas landas pada ketinggian mencapai 6.000 meter, serta tetap stabil saat menghadapi kecepatan angin hingga 12 m/s. Demi menjaga keamanan penerbangan, DJI membekalinya dengan omnidirectional binocular vision system yang didukung sensor inframerah 3D di bagian bawah untuk mendeteksi rintangan dari berbagai arah.
Sementara itu, sektor kameranya terdiri dari kamera wide-angle 48 MP dengan sensor CMOS 1/1,3 inci, kamera medium tele 48 MP, kamera telephoto 48 MP, serta kamera thermal radiometrik yang mendukung resolusi hingga 1280 × 1024 pada 30 fps saat fitur Super Resolution diaktifkan. Drone ini juga dilengkapi laser rangefinder dengan jangkauan pengukuran hingga 1.800 meter pada target dengan reflektivitas 20 persen sehingga koordinat objek dapat diperoleh dengan lebih akurat.
Dalam misi pencarian dan penyelamatan, DJI Matrice 4T dapat diterbangkan secara manual mengikuti pola pencarian seperti spiral search di lokasi terakhir korban terlihat. Area pencarian, jalur evakuasi, dan titik penting dapat ditandai menggunakan titik, garis, maupun poligon melalui DJI FlightHub 2 sehingga seluruh tim memperoleh informasi yang sama secara real-time.
Selain itu, operator dapat memilih berbagai thermal palette seperti White Hot dan Black Hot agar objek lebih mudah dikenali sesuai kondisi lapangan. Fitur Link Zoom memungkinkan kamera visual dan kamera thermal melakukan pembesaran secara bersamaan sehingga proses identifikasi menjadi lebih akurat. Drone ini juga mampu membuat peta 2D dengan cepat melalui DJI FlightHub 2 untuk membantu memahami kondisi area pencarian.
Setelah korban ditemukan, lokasi dapat langsung ditandai menggunakan fitur PinPoint lalu koordinatnya dibagikan kepada seluruh tim. Untuk mendukung operasional di lapangan, DJI Matrice 4T kompatibel dengan DJI Pilot 2 sebagai ground control dan DJI FlightHub 2 untuk pengelolaan drone berbasis cloud. Jika dibutuhkan, drone ini juga dapat membantu komunikasi menggunakan speaker serta memberikan pencahayaan tambahan melalui spotlight agar proses evakuasi berlangsung lebih aman dan efisien.
Baca juga: Drone untuk Inspeksi Bendungan: Begini Cara Kerja dan Rekomendasinya
2. DJI Matrice 30T – Versatile Thermal

DJI Matrice 30T merupakan drone enterprise yang dirancang untuk mendukung operasi Search and Rescue (SAR) di berbagai kondisi cuaca. Berkat sertifikasi IP55, drone ini tahan terhadap debu dan percikan air sehingga tetap dapat digunakan saat hujan ringan maupun pada suhu ekstrem antara -20°C hingga 50°C. Bobotnya sekitar 3.770 gram termasuk dua baterai sehingga masih mudah dibawa ke lokasi operasi.
DJI Matrice 30T menawarkan waktu terbang hingga 41 menit, kecepatan maksimum 23 m/s, kemampuan terbang pada ketinggian hingga 7.000 meter, serta mampu menghadapi kecepatan angin sampai 12 m/s. Untuk meningkatkan keamanan penerbangan, drone ini dibekali sistem sensing dan positioning enam arah yang memanfaatkan dual-vision sensor serta ToF sensor di setiap sisi pesawat.
Selain itu, tersedia ADS-B receiver yang akan memberikan peringatan saat terdapat pesawat berawak di sekitar area operasi. DJI juga melengkapinya dengan sistem redundansi, empat antena O3 Enterprise Transmission, dukungan DJI Cellular Dongle untuk 4G Enhanced Transmission, serta desain lipat yang ringkas sehingga lebih mudah dibawa dan dapat segera diterbangkan ketika dibutuhkan.
Dari sisi pengindraan, DJI Matrice 30T mengusung kamera wide 12 MP dengan sensor CMOS 1/2 inci dan lensa ekuivalen 24 mm yang mampu merekam video 4K 30 fps. Drone ini juga dilengkapi kamera zoom 48 MP dengan sensor CMOS 1/2 inci yang mendukung optical zoom 5x hingga 16x, hybrid zoom hingga 200x, foto beresolusi 8K, serta perekaman video 4K 30 fps.
Untuk membantu pencarian pada malam hari atau area minim cahaya, tersedia kamera thermal beresolusi 640 × 512 piksel pada 30 fps dengan akurasi pengukuran ±2°C atau ±2%. Selain itu, laser rangefinder mampu mengukur objek pada jarak 3 hingga 1.200 meter dengan akurasi ±(0,2 m + D × 0,15%). Saat menjalankan misi, operator dapat menerapkan pola pencarian seperti spiral search lalu menandai titik, garis, maupun area melalui DJI FlightHub 2.
Thermal palette White Hot dan Black Hot dapat dipilih agar objek lebih mudah dikenali, sedangkan fitur Link Zoom memungkinkan kamera visual dan thermal melakukan pembesaran secara bersamaan. Visibilitas malam juga dapat ditingkatkan dengan menonaktifkan IR Cut Filter.
Selanjutnya, drone mampu membuat peta 2D secara cepat melalui DJI FlightHub 2, menentukan koordinat korban menggunakan laser rangefinder dan PinPoint, lalu membagikan data tersebut kepada tim darat melalui DJI Pilot 2 atau DJI FlightHub 2. Jika diperlukan, DJI Matrice 30T juga dapat mendukung komunikasi menggunakan speaker serta membantu proses evakuasi dengan spotlight sehingga koordinasi di lapangan menjadi lebih cepat, aman, dan efisien.
Baca juga: 10 Drone untuk Inspeksi Solar Panel yang Banyak Digunakan di Proyek Besar
3. DJI Matrice 400 – Robust Multi-Purposed Search

DJI Matrice 400 merupakan platform drone enterprise yang dirancang untuk menjalankan misi Search and Rescue (SAR) berskala besar serta operasi penyelamatan di medan yang kompleks. Drone ini memiliki bobot sekitar 9.740 gram dengan maksimum berat lepas landas 15,8 kg dan mampu membawa payload hingga 6 kg sehingga dapat dipasangi berbagai perangkat sesuai kebutuhan misi.
Drone ini juga menawarkan waktu terbang hingga 59 menit, kecepatan horizontal maksimum 25 m/s, serta mampu beroperasi pada ketinggian hingga 7.000 meter. Ketangguhannya didukung sertifikasi IP55 sehingga tetap andal saat menghadapi hujan dan debu, sekaligus mampu bekerja pada suhu -20°C hingga 50°C.
Demi menjaga keselamatan penerbangan, drone ini dibekali omnidirectional binocular vision system dengan sensor fisheye berwarna, horizontal rotating LiDAR, upper LiDAR, sensor inframerah 3D di bagian bawah, serta enam radar mmWave yang dapat mendeteksi rintangan kecil seperti kabel listrik meski dalam kondisi gelap, berkabut, atau hujan.
Sistem transmisi O4 Enterprise Enhanced mendukung jangkauan hingga 40 km, sedangkan fitur Airborne Relay Video Transmission memungkinkan satu Matrice 400 berfungsi sebagai drone relay agar komunikasi tetap stabil selama operasi jarak jauh. Selain itu, drone ini kompatibel dengan berbagai payload seperti Zenmuse H30 Series, Zenmuse L2, Zenmuse P1, Zenmuse S1 Spotlight, Zenmuse V1 Speaker, hingga payload pihak ketiga sehingga lebih fleksibel untuk berbagai kebutuhan penyelamatan.
Dalam operasi SAR, DJI Matrice 400 dipadukan dengan Zenmuse H30T yang mengintegrasikan kamera wide-angle RGB 48 MP, kamera zoom RGB 40 MP dengan hybrid optical zoom hingga 34x, kamera thermal beresolusi 1280 × 1024 pada 30 fps, NIR Auxiliary Light dengan jangkauan pencahayaan sekitar 8 meter pada jarak 100 meter, serta laser rangefinder yang mampu mengukur objek hingga 3.000 meter.
Operator dapat menerbangkan drone mengikuti pola pencarian seperti spiral search lalu menandai titik, garis, maupun area penting melalui DJI FlightHub 2. Berbagai thermal palette seperti White Hot dan Black Hot membantu menyesuaikan tampilan sesuai kondisi lapangan, sedangkan fitur Link Zoom memungkinkan kamera visual dan thermal melakukan pembesaran secara bersamaan.
Saat misi berlangsung pada malam hari, operator dapat menonaktifkan IR Cut Filter dan mengaktifkan IR Spotlight agar objek lebih mudah terlihat. Drone ini juga mampu membuat peta 2D secara cepat untuk membantu memahami area pencarian, kemudian menentukan koordinat korban menggunakan laser rangefinder dan PinPoint sebelum membagikannya kepada tim darat melalui DJI Pilot 2 atau DJI FlightHub 2.
Selain mendukung komunikasi menggunakan speaker dan pencahayaan tambahan melalui spotlight, DJI Matrice 400 juga dibekali fitur Smart Detection, Smart Track, Real-Time Terrain Follow, Smart AR Projection, kemampuan takeoff dan landing di kapal, flight route automation, serta pengelolaan misi berbasis cloud sehingga koordinasi antar tim menjadi lebih cepat, aman, dan efisien pada berbagai skenario penyelamatan.
Baca juga: 11 Manfaat Drone untuk Perkebunan: Teknologi Modern untuk Meningkatkan Hasil Pertanian
Dukungan Perangkat Lunak dan Workflow Operasi Search and Rescue
Keberhasilan operasi Search and Rescue (SAR) tidak hanya bergantung pada kemampuan drone, tetapi juga didukung perangkat lunak yang mampu mempercepat koordinasi antar tim. DJI FlightHub 2 memungkinkan operator melakukan live streaming, membuat anotasi berupa titik, garis, maupun area pada peta, serta menyinkronkan seluruh data secara real-time kepada tim yang berada di lapangan maupun pusat komando.
Sementara itu, DJI Pilot 2 menyediakan antarmuka penerbangan yang intuitif sehingga operator dapat mengendalikan drone dengan lebih mudah, menandai lokasi penting menggunakan PinPoint, serta membagikan koordinat melalui QR code atau langsung terhubung ke DJI FlightHub 2. Integrasi kedua platform ini memastikan seluruh informasi dari udara dapat diterima dan dimanfaatkan oleh tim darat tanpa jeda sehingga proses pengambilan keputusan menjadi lebih cepat dan akurat.
Dalam pelaksanaannya, operasi SAR biasanya diawali dengan penerbangan manual di sekitar lokasi terakhir korban terlihat menggunakan pola pencarian seperti spiral search atau grid search agar seluruh area dapat dipindai secara optimal. Operator kemudian memilih thermal palette seperti White Hot atau Black Hot sesuai kondisi lapangan dan dapat beralih antara kamera visual serta thermal menggunakan fitur Link Zoom untuk membantu proses identifikasi.
Setelah korban atau objek ditemukan, drone akan melayang di atas lokasi untuk menentukan koordinat menggunakan laser rangefinder dan PinPoint, kemudian informasi tersebut langsung dibagikan kepada tim penyelamat. Jika diperlukan, operator juga dapat membuat peta 2D secara cepat sebagai acuan navigasi menuju lokasi korban. Pada operasi malam hari, spotlight membantu menerangi area pencarian, sedangkan speaker memungkinkan petugas memberikan instruksi atau berkomunikasi langsung dengan korban selama proses evakuasi berlangsung.

