• Home
  • Blog
  • DSM vs DTM: Memahami Perbedaan dan Kapan Harus Menggunakannya

DSM vs DTM: Memahami Perbedaan dan Kapan Harus Menggunakannya

sc: Vietnam

Doran Corporate – Dalam pemetaan drone dan analisis geospasial, istilah DSM dan DTM sering digunakan untuk menggambarkan model elevasi suatu wilayah. Meski terdengar mirip, keduanya memiliki fungsi dan karakteristik yang berbeda sehingga penggunaannya harus disesuaikan dengan kebutuhan. Lalu, apa perbedaan DSM dan DTM? Simak penjelasan selengkapnya di bawah ini.

DEM sebagai Konsep Dasar

Sebelum memahami perbedaan DSM dan DTM, Anda perlu mengenal terlebih dahulu Digital Elevation Model (DEM). DEM merupakan istilah umum yang digunakan untuk menggambarkan representasi digital dari data ketinggian permukaan bumi. Di dalam konsep DEM terdapat dua jenis model elevasi yang paling sering digunakan, yaitu Digital Surface Model (DSM) dan Digital Terrain Model (DTM).

Meskipun sama-sama menyajikan data elevasi dalam bentuk tiga dimensi, DSM dan DTM memiliki informasi yang berbeda. DSM menampilkan seluruh objek yang berada di atas permukaan tanah, sedangkan DTM hanya merepresentasikan kondisi permukaan tanah itu sendiri. Perbedaan isi data tersebut membuat fungsi dan penerapan masing-masing model disesuaikan dengan kebutuhan analisis maupun pemetaan yang dilakukan.

Baca juga: Cara Kerja Kamera Thermal: Pengertian, Fungsi, dan Manfaatnya untuk Berbagai Jenis Inspeksi

Perbedaan DSM vs DTM

DSM vs DTM
sc: JOUAV

Meski sama-sama termasuk jenis Digital Elevation Model (DEM), DSM dan DTM memiliki karakteristik serta fungsi yang berbeda. Berikut perbedaan DSM dan DTM yang perlu Anda ketahui sebelum menggunakannya dalam proses pemetaan maupun analisis geospasial.

1. Objek yang Direpresentasikan

DSM (Digital Surface Model) menampilkan seluruh permukaan yang terlihat dari atas, termasuk bangunan, pepohonan, kendaraan, hingga berbagai struktur lain yang berada di atas tanah. Karena itu, DSM menggambarkan kondisi suatu area sebagaimana direkam oleh sensor drone atau LiDAR saat proses pengambilan data.

Sementara itu, DTM (Digital Terrain Model) hanya merepresentasikan permukaan tanah asli. Seluruh objek seperti bangunan dan vegetasi telah dihilangkan melalui proses klasifikasi dan filtering sehingga menghasilkan model bare earth yang menunjukkan kontur tanah tanpa gangguan objek lain. Dengan karakteristik tersebut, DTM lebih tepat digunakan untuk analisis yang berfokus pada kondisi permukaan tanah.

2. Tujuan dan Penggunaan

DSM digunakan ketika dibutuhkan representasi kondisi lapangan yang masih mencakup seluruh objek di atas permukaan tanah. Model ini banyak dimanfaatkan untuk perencanaan kota, analisis tinggi bangunan dan kanopi pohon, perencanaan pemasangan panel surya, studi line of sight pada jaringan telekomunikasi, hingga visualisasi proyek.

DTM lebih cocok digunakan untuk analisis yang berfokus pada bentuk permukaan tanah. Oleh karena itu, model ini sering dimanfaatkan dalam perhitungan volume cut and fill, analisis kemiringan lereng, pemodelan aliran air dan drainase, analisis risiko banjir, hingga berbagai kebutuhan perencanaan konstruksi dan infrastruktur.

3. Tampilan Data

DSM menghasilkan model elevasi yang masih mempertahankan seluruh objek di atas permukaan bumi. Karena itu, visualisasinya lebih mendekati kondisi lapangan saat data diambil sehingga memudahkan pengguna dalam memahami bentuk area secara keseluruhan. DTM hanya menampilkan kontur permukaan tanah tanpa bangunan, vegetasi, maupun objek lainnya. Tampilan ini memberikan gambaran topografi yang lebih murni sehingga lebih sesuai untuk analisis bentuk lahan dan elevasi tanah.

4. Proses Pembuatan

DSM umumnya dihasilkan dari point cloud hasil fotogrametri atau LiDAR dengan proses pengolahan yang relatif lebih sedikit. Hal ini karena data elevasi tetap mempertahankan objek yang berada di atas permukaan tanah. Sementara itu, DTM memerlukan tahapan tambahan berupa klasifikasi dan filtering untuk memisahkan titik ground dan non-ground. Setelah itu, hanya titik yang mewakili permukaan tanah yang digunakan untuk membentuk model elevasi sehingga proses pembuatannya lebih kompleks dan membutuhkan ketelitian yang lebih tinggi.

5. Kesesuaian Penggunaan

DSM lebih tepat digunakan ketika analisis melibatkan objek yang berada di atas permukaan tanah, seperti bangunan, pepohonan, maupun infrastruktur lainnya. Karena masih mempertahankan objek tersebut, DSM mampu memberikan representasi kondisi lapangan yang lebih lengkap.

DTM menjadi pilihan yang lebih sesuai untuk analisis yang berhubungan dengan bentuk permukaan tanah. Model ini banyak digunakan dalam studi hidrologi, analisis drainase, perencanaan jalan, hingga perhitungan volume cut and fill karena hanya menggunakan elevasi tanah asli sebagai acuan.

Baca juga: LIDAR vs Photogrammetry: Manakah yang Terbaik untuk Survey?

Penerapan DSM dan DTM dalam Berbagai Proyek

penerapan DSM vs DTM
sc: Wikimedia Commons

Dalam praktiknya, DSM dan DTM sering digunakan secara bersamaan untuk menghasilkan analisis yang lebih lengkap. Salah satu contohnya adalah menghitung tinggi pohon atau bangunan dengan mengurangi nilai DTM dari DSM sehingga diperoleh tinggi objek di atas permukaan tanah. Teknik ini banyak dimanfaatkan dalam industri kehutanan, perkebunan, hingga analisis infrastruktur.

Perkembangan teknologi drone, sensor LiDAR, dan sistem RTK juga membuat proses pembuatan DSM maupun DTM menjadi lebih cepat dan akurat. Drone mampu memetakan area yang luas dalam waktu yang jauh lebih singkat dibandingkan metode survei konvensional. Selain itu, data yang dihasilkan dapat diperbarui secara berkala sehingga sangat cocok untuk monitoring proyek jangka panjang.

Meski sama-sama digunakan untuk menghasilkan model elevasi, LiDAR dan fotogrametri memiliki keunggulan yang berbeda. LiDAR mampu menembus vegetasi sehingga lebih efektif menghasilkan DTM pada area berhutan atau wilayah dengan tutupan pohon yang lebat.

Sementara itu, fotogrametri lebih unggul dalam menghasilkan DSM yang kaya detail visual, tetapi memiliki keterbatasan saat membuat DTM di area yang dipenuhi vegetasi. Oleh karena itu, pemilihan teknologi sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi proyek.

Selain memilih teknologi yang tepat, Anda juga perlu menentukan model elevasi yang sesuai dengan tujuan analisis. Penggunaan model yang kurang tepat dapat memengaruhi hasil yang diperoleh. Misalnya, penggunaan DSM untuk analisis drainase dapat membuat bangunan dianggap sebagai penghalang aliran air.

Sebaliknya, penggunaan DTM untuk menghitung tinggi pohon akan menghilangkan informasi mengenai objek tersebut. Dengan memahami karakteristik masing-masing model, Anda dapat memperoleh hasil analisis yang lebih akurat dan sesuai dengan kebutuhan proyek.

Baca juga: RTK vs LiDAR: Perbedaan, Akurasi, dan Cara Memilih Teknologi yang Tepat

Penutup

Memahami perbedaan DSM dan DTM merupakan langkah penting sebelum melakukan pemetaan maupun analisis geospasial. Kedua model elevasi tersebut memiliki fungsi yang berbeda, sehingga pemilihannya perlu disesuaikan dengan tujuan proyek agar hasil analisis lebih akurat dan dapat diandalkan. Dengan memanfaatkan model elevasi yang tepat serta didukung teknologi drone yang sesuai, proses pengambilan keputusan pun dapat dilakukan dengan lebih efektif.

Jika Anda sedang mencari drone pemetaan, sensor LiDAR, maupun solusi survei dan pemetaan untuk kebutuhan konstruksi, pertambangan, perkebunan, hingga inspeksi infrastruktur, Doran Corporate siap membantu. Dapatkan produk original dari berbagai merek terpercaya sekaligus konsultasi untuk memilih solusi yang paling sesuai dengan kebutuhan proyek Anda. Hubungi admin Doran Corporate melalui WhatsApp untuk informasi produk dan penawaran terbaik.

Artikel Terkait:

August 3, 2026

July 30, 2026

July 28, 2026

July 25, 2026

July 24, 2026

July 20, 2026