2. Cek Akurasi Sentimeter
Dalam kondisi yang tepat, survei menggunakan drone dapat menghasilkan akurasi hingga tingkat sentimeter. USGS menjelaskan bahwa teknologi UAS dapat digunakan untuk menghasilkan produk geospasial dengan akurasi sentimeter. Hasil tersebut mencakup orthophoto dan produk pemetaan lainnya yang didukung pengukuran GNSS serta Ground Control Point (GCP).
Meski begitu, setiap penerbangan drone tidak otomatis menghasilkan akurasi sentimeter. Tingkat akurasi tetap dipengaruhi oleh metode survei dan proses validasi yang digunakan. Resolusi gambar yang tinggi juga belum tentu menunjukkan posisi absolut yang sama presisinya.
Sebagai contoh, salah satu penelitian USGS membandingkan DTM hasil fotogrametri UAS dengan pengukuran lapangan dan mendapatkan RMSE vertikal 2,9 cm dan 3,2 cm pada dua periode pengukuran. Angka tersebut menunjukkan bahwa akurasi beberapa sentimeter memang dapat dicapai dalam proyek tertentu. Namun, hasilnya tetap bergantung pada kondisi, metode, dan proses validasi sehingga tidak bisa dijadikan patokan untuk semua drone survey.
Baca juga: Apa itu Drone Survey? Pengertian, Fungsi, dan Cara Kerja!

3. GSD dan Akurasi Drone Survey
GSD (Ground Sample Distance) menunjukkan ukuran area di lapangan yang direpresentasikan oleh satu piksel pada gambar. Sebagai contoh, GSD 5 cm berarti satu piksel mewakili area sekitar 5 cm di lapangan. Nilai tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti ketinggian penerbangan, resolusi kamera, dan karakteristik kamera. Meski begitu, GSD tidak bisa disamakan langsung dengan tingkat akurasi hasil survei.
USGS menjelaskan bahwa dataset dengan GSD 1 cm tetap bisa memiliki akurasi posisi yang lebih rendah jika kualitas Ground Control Point (GCP) yang digunakan tidak memadai. Dalam salah satu contoh yang dibahas USGS, data dengan GCP pada tingkat akurasi tertentu tidak otomatis menjadi lebih akurat hanya karena ukuran pikselnya sangat kecil.
Karena itu, gambar yang sangat detail belum tentu memiliki koordinat objek yang tepat sesuai posisi sebenarnya. GSD lebih berkaitan dengan resolusi spasial, sedangkan akurasi posisi juga dipengaruhi oleh referensi koordinat, GCP, kualitas positioning, proses fotogrametri, dan metode validasi.
4. Mengerti Peran GCP dalam Akurasi
Ground Control Point (GCP) merupakan titik di lapangan yang memiliki koordinat yang sudah diketahui dan dapat dikenali pada citra drone. Titik ini digunakan dalam proses georeferencing sehingga dapat membantu meningkatkan akurasi horizontal dan vertikal pada produk seperti orthomosaic serta model elevasi. USGS juga menggunakan GCP dalam berbagai proyek UAS untuk meningkatkan akurasi produk fotogrametri.
Akurasi GCP sendiri tetap perlu diperhatikan karena kualitas data kontrol akan memengaruhi tingkat akurasi yang dapat dicapai. USGS menjelaskan bahwa data penginderaan jauh pada dasarnya tidak dapat diharapkan lebih akurat daripada referensi kontrol yang digunakan untuk membangunnya. Selain itu, distribusi GCP juga berpengaruh terhadap hasil survei. Titik kontrol sebaiknya tidak hanya ditempatkan pada satu bagian area karena GCP perlu tersebar dengan baik secara planimetrik dan elevasi untuk mendukung proses kalibrasi serta validasi.
5. Checkpoint untuk Menguji Keakuratan Hasil
Checkpoint memiliki fungsi yang berbeda dari Ground Control Point (GCP) dalam survei drone. GCP digunakan untuk mengontrol atau melakukan georeferencing pada model. Sementara itu, checkpoint tidak ikut digunakan untuk membangun model sehingga dapat menjadi titik independen untuk menguji hasil akhirnya.
Perbedaan ini penting karena model bisa terlihat sangat baik pada titik yang digunakan untuk mengoptimalkannya. Dengan checkpoint independen, hasil pemetaan dapat dibandingkan dengan koordinat yang sudah diketahui tanpa titik tersebut ikut memengaruhi proses penyesuaian model. Pix4D secara khusus merekomendasikan penggunaan checkpoint untuk menilai absolute accuracy pada model. USGS juga menggunakan titik kontrol dan titik referensi independen untuk mengevaluasi produk UAS.
Karena itu, saat sebuah proyek menyebutkan tingkat akurasi tertentu, Anda perlu melihat bagaimana angka tersebut diperoleh. Hasil yang divalidasi menggunakan checkpoint independen memberikan gambaran akurasi yang berbeda dibandingkan hasil yang hanya menunjukkan kecocokan dengan titik yang digunakan dalam proses pemodelan.
Baca juga: Fixed-Wing vs Multirotor Drones: Mana yang Lebih Tepat untuk Mapping, Survey, dan Inspeksi?

6. Pengaruh Pola Terbang dan Pengambilan Data
Akurasi drone survey tidak hanya bergantung pada jenis drone dan sensor yang digunakan. Cara drone mengambil foto juga ikut menentukan kualitas proses rekonstruksi dan kalibrasi. USGS menyebutkan bahwa prosedur akuisisi data menjadi bagian penting untuk menjaga kualitas dan akurasi hasil survei.
Karena itu, pola penerbangan, jumlah GCP, serta distribusi titik kontrol perlu direncanakan sejak awal. Panduan kalibrasi citra UAS dari USGS juga membahas penggunaan penerbangan pada dua elevasi dan orientasi yang berbeda untuk mendukung proses kalibrasi data.
Selain pola terbang, overlap antarfoto juga perlu diperhatikan agar perangkat lunak fotogrametri dapat menemukan titik yang sama pada beberapa gambar. Dengan begitu, perangkat lunak bisa membangun hubungan spasial antarimage secara lebih baik. Jika data yang dikumpulkan tidak cukup mendukung proses tersebut, kualitas model dapat menurun meskipun drone menggunakan kamera dengan resolusi tinggi.
7. Cek Kualitas Foto dan Kondisi Objek
Kualitas foto menjadi salah satu faktor yang memengaruhi hasil fotogrametri karena proses ini bekerja dengan menemukan hubungan dari banyak foto yang saling bertampalan. Karakteristik visual objek juga ikut menentukan hasil akhirnya. Pix4D menjelaskan bahwa point cloud, DSM, dan orthomosaic dapat dipengaruhi oleh kualitas gambar awal serta karakteristik objek yang dipetakan.
Beberapa objek juga lebih sulit diproses secara akurat seperti tepi tajam, pepohonan, permukaan reflektif, serta jenis jalan dan atap tertentu yang dapat memiliki akurasi lokal lebih rendah. Kondisi di lapangan juga dapat membuat hasil survei berbeda pada setiap area. Permukaan yang tertutup vegetasi bisa menyulitkan proses pemetaan.
Begitu pula dengan perubahan bentuk objek, bayangan, serta kurangnya detail visual karena kondisi tersebut dapat menghambat pencocokan antarfoto. Karena itu, tingkat akurasi tidak selalu sama untuk seluruh area dalam satu proyek meskipun data diambil menggunakan drone dan metode yang sama.
8. Gunakan RTK dan PPKÂ untuk Meningkatkan Akurasi Posisi
RTK (Real-Time Kinematic) dan PPK (Post-Processed Kinematic) digunakan untuk meningkatkan ketelitian informasi posisi pada data drone. Keduanya dapat memberikan positioning yang lebih presisi dibandingkan GNSS standar. Meski begitu, hasil akhir tetap bergantung pada keseluruhan proses pemetaan.
Pix4D menjelaskan bahwa proyek yang direkonstruksi dan diposisikan dengan baik secara umum dapat memiliki expected relative accuracy sekitar 1–2 kali GSD secara horizontal dan 1–3 kali GSD secara vertikal. Pada GSD 5 cm, kisaran tersebut setara dengan sekitar 5–10 cm secara horizontal dan 5–15 cm secara vertikal.
Penggunaan RTK atau PPK juga tidak otomatis membuat seluruh hasil survei menjadi sempurna. Data positioning yang lebih presisi tetap perlu didukung oleh kualitas foto, geometri penerbangan, proses fotogrametri, serta validasi menggunakan titik independen jika diperlukan. DJI juga membedakan tingkat akurasi antara drone tanpa RTK, penggunaan GCP, drone RTK, serta kombinasi RTK dan GCP. Kombinasi tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan tingkat akurasi sesuai kebutuhan proyek.

