• Home
  • Blog
  • Fixed-Wing vs Multirotor Drones: Mana yang Lebih Tepat untuk Mapping, Survey, dan Inspeksi?

Fixed-Wing vs Multirotor Drones: Mana yang Lebih Tepat untuk Mapping, Survey, dan Inspeksi?

Rekomendasi Drone JOUAV - CW-30E

Doran Corporate – Penggunaan drone untuk pemetaan, survei, inspeksi, hingga pemantauan lingkungan terus meningkat karena dinilai lebih efisien dari berbagai hal dibanding metode konvensional. Ada beberapa drone yang sering dibandingkan yaitu fixed-wing dan multirotor, karena keduanya memiliki karakteristik, keunggulan, dan keterbatasan yang sangat berbeda. Pemilihan jenis drone yang tepat akan sangat menentukan efektivitas operasional di lapangan. Nah, berikut ini perbandingan Fixed-Wing vs Multirotor Drones yang wajib Anda ketahui!

Apa Itu Drone Fixed-Wing?

Drone fixed-wing merupakan jenis drone yang dari segi bentuk dan cara terbang menyerupai pesawat terbang. Drone ini mengandalkan sayap tetap untuk menghasilkan daya angkat, sementara motor berperan sebagai pendorong agar drone terus bergerak maju di udara selama penerbangan berlangsung.

Karena daya angkat dihasilkan oleh bentuk sayap, fixed-wing tidak harus terus mengandalkan tenaga motor untuk tetap melayang. Kondisi ini membuat konsumsi energi menjadi lebih efisien sehingga waktu terbangnya jauh lebih lama. Selain itu, fixed-wing juga mampu terbang pada ketinggian yang lebih tinggi dan sangat ideal digunakan untuk menjangkau area yang luas dalam satu kali misi.

Apa Itu Drone Multirotor?

Drone multirotor merupakan jenis drone yang menggunakan beberapa baling-baling untuk menghasilkan daya angkat, seperti quadcopter, hexacopter, dan octocopter. Setiap baling-baling berputar dengan kecepatan yang berbeda sehingga drone dapat menjaga keseimbangan, mengatur arah, serta mengontrol posisinya secara presisi saat berada di udara.

Keunggulan utama multirotor terletak pada kemampuannya untuk melayang di satu titik, melakukan lepas landas dan pendaratan secara vertikal, serta bermanuver dengan lincah di ruang terbatas. Oleh karena itu, jenis drone ini sangat banyak digunakan untuk pemetaan skala kecil, inspeksi detail, fotografi udara, serta berbagai pekerjaan di lingkungan yang kompleks seperti kawasan perkotaan atau area berhutan.

Baca juga: Dronetag RIDER: Alat Pendeteksi Drone Portabel untuk Keamanan dan Kesadaran Ruang Udara

Perbandingan Fixed-Wing vs Multirotor Drones

Fixed-Wing vs Multirotor Drones
sc: Insights – DJI

Setelah memahami karakter dasar masing-masing platform, berikut adalah perbandingan utama fixed-wing dan multirotor yang wajib Anda ketahui.

1. Waktu Terbang dan Endurance

Waktu terbang menjadi salah satu keunggulan paling menonjol dari drone fixed-wing karena daya angkat dihasilkan oleh sayap. Dengan mekanisme tersebut, fixed-wing mampu terbang dalam durasi yang sangat panjang, mulai dari sekitar 60 menit hingga mencapai 480 menit, tergantung pada model dan sistem tenaga yang digunakan.

Kemampuan ini membuat fixed-wing sangat efisien untuk pemetaan area yang sangat luas, karena ribuan hektare lahan dapat dijangkau dalam satu kali penerbangan tanpa perlu sering mendarat untuk mengganti baterai.

Di sisi lain, drone multirotor membutuhkan tenaga besar hanya untuk menjaga posisinya tetap stabil di udara. Kondisi ini menyebabkan waktu terbangnya jauh lebih singkat dan umumnya berada pada kisaran 15 hingga 60 menit. Untuk menjangkau area yang luas, multirotor harus melakukan penerbangan berulang, sehingga proses kerja di lapangan menjadi lebih lama dan risiko kesalahan data seperti overlap yang tidak konsisten juga bisa meningkat.

2. Cakupan Area, Manuver, serta Take-off dan Landing

Fixed-wing dikenal sangat unggul dalam cakupan area karena mampu terbang dengan kecepatan stabil dan lintasan panjang, sehingga ideal untuk pemetaan pertanian skala besar, inspeksi jalur pipa, pemantauan hutan, hingga survei wilayah terpencil. Namun, karakteristik ini membuat fixed-wing kurang fleksibel saat digunakan di area kompleks karena tidak dapat melayang di satu titik dan hanya bisa bergerak maju.

Saat bermanuver, drone harus berbelok dengan radius yang cukup besar, sehingga kurang efisien untuk area sempit atau berbentuk tidak beraturan. Selain itu, proses lepas landas dan pendaratan umumnya membutuhkan area terbuka atau sistem khusus, sehingga penggunaannya menjadi lebih terbatas di medan yang sempit meskipun beberapa model VTOL mulai menawarkan solusi yang lebih fleksibel.

Sebaliknya, multirotor memiliki cakupan area yang lebih terbatas karena durasi dan kecepatan terbangnya lebih rendah, tetapi justru sangat unggul untuk pekerjaan yang membutuhkan detail dan presisi. Drone jenis ini mampu bergerak ke segala arah, berhenti di satu titik, naik dan turun secara akurat, serta berputar di tempat.

Sehingga sangat ideal untuk inspeksi struktur, pemetaan detail, dan pengambilan data di lingkungan yang padat atau berhalang. Ditambah lagi, kemampuan lepas landas dan mendarat secara vertikal membuat multirotor dapat dioperasikan hanya dengan area kecil dan datar, bahkan dari lokasi terbatas seperti atap bangunan, perahu, atau area sempit di tengah hutan.

Baca juga: 5 Rekomendasi Drone JOUAV untuk Agriculture Modern

Fixed-Wing vs Multirotor Drones (1)
sc: Advexure

3. Stabilitas terhadap Angin dan Ketinggian

Fixed-wing memiliki tingkat stabilitas yang lebih baik saat terbang di ketinggian maupun dalam kondisi berangin karena desain aerodinamisnya membantu menjaga jalur terbang tetap konsisten. Karakteristik ini membuat fixed-wing sangat cocok digunakan untuk survei di dataran tinggi atau area terbuka yang sering terpapar angin, sekaligus mampu menghasilkan data yang lebih seragam dalam satu misi penerbangan.

Sebaliknya, multirotor cenderung lebih rentan terhadap gangguan angin karena seluruh daya angkatnya bergantung pada putaran baling-baling. Ketika menghadapi angin kencang, kestabilan drone dapat terganggu sehingga memengaruhi kualitas data yang dihasilkan. Kondisi ini menjadi perhatian khusus pada pekerjaan seperti fotogrametri dan LiDAR yang membutuhkan kecepatan serta ketinggian terbang yang konsisten agar hasil pemetaan tetap akurat.

4.  Fleksibilitas Payload dan Sensor

Multirotor dikenal memiliki tingkat fleksibilitas yang tinggi dalam membawa berbagai jenis payload dan sensor. Drone jenis ini dapat digunakan dengan kamera resolusi tinggi, sensor LiDAR, thermal, multispektral, bahkan kombinasi beberapa sensor dalam satu kali penerbangan sehingga sangat cocok untuk misi yang membutuhkan detail dan variasi data. Namun demikian, penambahan payload akan langsung memengaruhi konsumsi daya sehingga waktu terbangnya menjadi lebih singkat.

Sementara itu, fixed-wing umumnya dirancang untuk membawa payload yang lebih ringan dan spesifik sesuai kebutuhan misi tertentu. Beberapa model memang mendukung sistem penggantian payload, tetapi tingkat fleksibilitasnya masih lebih terbatas dibanding multirotor. Hal ini membuat fixed-wing kurang ideal untuk pekerjaan inspeksi detail yang memerlukan perubahan sensor atau sudut pengambilan data secara cepat.

5. Kompleksitas Operasional, Keterampilan Pilot, dan Biaya Investasi

Multirotor relatif lebih mudah dipelajari karena telah didukung oleh sistem autopilot dan perangkat lunak mission planning yang intuitif. Dalam kondisi darurat, pilot bahkan dapat melepas kontrol dan drone akan mempertahankan posisi secara otomatis, sehingga risiko kesalahan bisa ditekan.

Dari sisi biaya, multirotor tersedia dalam berbagai rentang harga mulai dari kelas konsumen hingga enterprise, sehingga investasi awalnya cenderung lebih terjangkau. Untuk kebutuhan pemetaan skala kecil hingga menengah, kombinasi kemudahan operasional dan harga yang relatif rendah membuat multirotor mampu memberikan pengembalian investasi yang cepat.

Sebaliknya, fixed-wing menuntut keterampilan pilot yang lebih tinggi, terutama pada fase lepas landas dan pendaratan karena drone harus terus bergerak agar tetap menghasilkan daya angkat. Kesalahan kecil dapat berdampak besar, sehingga pengoperasiannya biasanya dilakukan oleh tim dengan pelatihan khusus.

Dari sisi biaya, fixed-wing umumnya memerlukan investasi yang lebih besar baik untuk unit, pelatihan, maupun operasional. Namun, untuk proyek berskala besar dan dilakukan secara rutin, efisiensi waktu serta kemampuan menjangkau area yang sangat luas dapat menghasilkan nilai pengembalian investasi yang lebih optimal dalam jangka panjang.

Baca juga: 7 Rekomendasi Drone untuk Pemetaan Proyek Terbaik Tahun 2026

Penutup

Baik fixed-wing maupun multirotor memiliki peran dan keunggulan masing-masing yang tidak bisa saling menggantikan. Fixed-wing unggul untuk pemetaan dan survei area sangat luas dengan efisiensi tinggi, sementara multirotor lebih ideal untuk pekerjaan detail yang membutuhkan fleksibilitas, manuver presisi, dan operasional di area terbatas. Memahami kebutuhan proyek, kondisi lapangan, serta skala pekerjaan menjadi kunci utama dalam menentukan jenis drone yang paling tepat agar hasil yang diperoleh benar-benar optimal.

Jika sedang mempertimbangkan pembelian drone untuk kebutuhan pemetaan, survei, inspeksi, atau monitoring profesional, Doran Corporate menyediakan berbagai pilihan drone fixed-wing dan multirotor dari brand terpercaya, lengkap dengan dukungan teknis dan solusi yang sesuai kebutuhan industri. Untuk konsultasi produk dan rekomendasi drone terbaik, langsung saja hubungi admin Doran Corporate melalui WhatsApp dan dapatkan solusi yang paling tepat untuk proyek Anda.

Artikel Terkait:

February 14, 2026

February 9, 2026

February 7, 2026

February 1, 2026

January 30, 2026

January 28, 2026